Harga Gas Tangguh ke PLN Belum Disetujui

Pemerintah hingga saat ini belum menyetujui usulan harga penjualan gas dari kilang Tangguh, Papua ke PT PLN (Persero).

Dirjen Migas Kementerian ESDM, Evita Legowo di Jakarta, Selasa mengatakan, pemerintah masih mengkaji usulan harga gas tersebut.

"Kami sudah terima usulannya dan mulai bicara, tapi memang belum sepakat," ujarnya.

Menurut dia, pemerintah berkeinginan harga gas lebih rendah dari usulan yang disampaikan PLN dan BP, selaku pengelola kilang Tangguh tersebut.

"Maunya kami begitu (harga yang lebih murah). Karenanya, persoalan ini belum tuntas dibahas," ujarnya.

Evita juga mengatakan, pihaknya tidak hanya melihat penjualan gas sebagai penerimaan negara saja, namun manfaat yang lebih besar kalau gas digunakan di dalam negeri.

"Kami akan lihat kesimbangan semuanya," ujarnya.

Dirut PLN Nur Pamudji mengaku, sampai saat ini, harga gas Tangguh belum ada kesepakatan.

"Baru volume saja yang disepakati yakni satu juta ton per tahun," katatanya.

Namun, ia mengakui, usulan harga gas LNG Tangguh itu memakai formula harga yang dikaitkan dengan harga minyak mentah di pasar Jepang (Japan cocktail crude/JCC) dan bukan Indonesia (ICP).

"Alasannya, acuan JCC sudah ada dan akan ada terus. Tapi, kalau pemerintah mau pakai ICP, kami akan ikut," katanya.

Ia menargetkan, kesepakatan harga bisa dicapai pada September ini.

Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR, Agus Sulistyono meminta agar harga gas Tangguh ke PLN tidak mengacu JCC.

"Karena JCC itu merupakan acuan harga ekspor. Mestinya, pakai ICP saja," ujarnya.

Ia meminta, pemerintah menolak harga jual gas Tangguh ke PLN yang terlalu mahal.

"Kalau PLN beli harga gas yang mahal, maka subsidi listrik juga akan membengkak," katanya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, harga gas Tangguh ke PLN akan memakai formula 11 persen dikalikan JCC dan ditambah konstanta satu dolar AS per MMBTU pada 2013.

Selanjutnya, harga gas akan mengalami eskalasi antara 12-14,5 persen JCC secara bertahap mulai 2014 hingga 2032.

Sementara, volumenya yang sudah disepakati adalah 12 kargo per tahun antara 2013-2017, dan sebanyak 18 kargo per tahun selama 2018-2032.

Serta, opsi tambahan menjadi 24 kargo per tahun setelah "train" Tangguh 3 beroperasi.

sumber : Yahoo news

{ 0 komentar }

Poskan Komentar